Tahukah Anda Tentang, Mahatma Gandhi??

“Adalah dibawah martabat manusia jika seseorang kehilangan kepribadiannya dan menjadi tidak lebih daripada sebuah roda gigi pada mesin”

Minggu, 23 Maret 2014

Home » , , » El Clasico: Lebih dari Sekadar Drama Biasa (2)

El Clasico: Lebih dari Sekadar Drama Biasa (2)


 elclasicoIni juga yang terjadi dengan Hristo Stoichkov. Kepada Franklin Foer, sebagaimana diceritakan dalam buku “How Soccer Explains The World”, saat ditanyai tentang rivalitas antara Barcelona dan Madrid, Stoichkov malah memberikan jawaban lebih keras lagi. “Saya akan selalu membenci Real Madrid. Lebih baik bumi terbelah dan menelan saya, ketimbang harus menerima kerja dengan mereka. Membicarakan Real Madrid membuat diri saya ingin muntah,” ucapnya.

Stoichkov adalah pemain paling populer di Barcelona. Ketenarannya bukan hanya berkat permainannya di lapangan, tapi juga karena kelantangannya mengkampanyekan ideologi Katalunyaisme yang selalu ia banggakan.

Ya, saat membicarakan rivalitas itu, Barca selalu memposisikan diri mereka sebagai yang tertindas. Sejarah lama kekejaman Jenderal Franco pada kakek-nenek mereka juga sering diungkap-ungkap kembali.

Sikap dan ucapan-ucapan tersebut memang dapat dimengerti. Tindakan represif yang dilakukan Franco dengan membabat habis kebudayaan bangsa Catalunya tentu sebuah tindakan yang tak bisa ditolerir. Belum lagi jika bicara masalah perseteruan Catalunya dan Kastilia terkait pemerataan uang antara pusat dan daerah, serta bagaimana Catalunya yang diperah bagi kumpulan tuan tanah di kota Madrid .

Tapi, pada saat zaman keditaktoran Franco telah usai dan Catalunya mendapatkan otonomi daerah dan bahkan selalu lebih dimanjakan ketimbang daerah lain, apakah yang dilakukan Barcelona ini masih relevan?

Franklin Foer, yang secara terang-terangan mengaku sebagai fans Barcelona dan menuliskan El Clasico pada bab khusus dalam buku "How Soccer Explains The World", pun mengakui kelemahan argumen ini.

Ia menuturkan bahwa dalam kemakmuran era demokratis zaman sekarang, orang Catalunya tak punya basis objektif untuk merasa ditindas. Kebencian mereka terhadap Madrid hanyalah kebencian berbentuk abstrak. Mereka hendak merasakan apa yang diderita ayah dan kakek mereka di bawah tirani Madrid -- tewas dalam perang saudara dan tak boleh menuturkan bahasanya sendiri. Tapi, kejadian itu tentu ada pada masa lalu.

Barca sering kali memposisikan diri mereka sebagai sesosok David yang sedang melawan Goliath. Sikap ini juga yang kerap diamini oleh para pemain Barca. "Catalunya adalah negara dan Barcelona adalah tentaranya. Real Madrid adalah musuh terbesar kami " ucap Sir Bobby Robson, eks Pelatih Barcelona.

Robson sebenarnya seorang Inggris yang disegani dan selalu berhati-hati saat berucap. Tapi komentarnya seolah membuktikan bahwa nasionalisme Catalunya memang telah menempel dalam diri setiap pemain, ofisial, ataupun pelatih Barcelona.(Detik/TheMj)Selanjutnya

Bagikan :

0 komentar :

 
About Us | Privasi Police | Term of Servis | Disclaimer | Contact Info | Partnership
Copyright © 2014. KARANG SARUNA SATYA BHAKTI - All Rights Reserved
Template design by The Mj - Proudly powered by Blogger